Proyeksi Sebuah Kehilangan

Senyap di tengah malam mengajakku berkelana pada sebuah perjalanan. Memutar kembali rekaman-rekaman perihal waktu yang sudah lewat. Satu rekaman yang belum cukup panjang menggambarkan tentang manusia yang keberadaannya saat ini sangat ku syukurkan—pula ku rindukan.

Dari banyaknya hal konyol yang acapkali sengaja atau tidak sengaja dilakukan; pembicaraan receh hingga serius dan memusingkan; lagu-lagu kesukaan serta banyak hal lainnya, rupa-rupanya begitu jelas terekam dalam ingatan.

Seketika rekaman itu terhenti, berubah menjadi proyeksi sebuah layar hitam nan sendu. Menceritakan tentang sebuah perubahan dan juga kehilangan. Pikiranku melayang terbawa suasana, betapa proyeksi itu kian menjadi nyata. Terlebih ada hari di mana kita menyepakati adanya perubahan. Meski setelahnya, kesepakatan itu gagal lantaran hati yang tak bisa diajak kompromi.

Lalu, sejak saat itu rasa-rasanya aku harus selalu siap manakala hilang dan perginya manusia tersebut akan menjadi nyata.

Pada akhirnya, menelisik akal sehat dan keimanan, kita akan tetap baik-baik saja—sekalipun tidak lagi bersama. Semoga.

Share to:

Leave a Reply

Your email address will not be published.