Pindah

Setelah menyepi, meminta pendapat teman, baku hantam pikiran-perasaan, minta wangsit akhirnya gue memilih satu keputusan baru di tahun ini. Keputusan yang sebelumnya tidak gue rencanakan dan tidak termasuk dalam to do list gue di 2019. Pindah blog, migrasi, hijrah, move on, you name it.

Cukup bingung, rela ga rela untuk memutuskan membuat baru dan pindah blog ini. Antara membutuhkan suasana baru namun masih sayang. Iya, sayang blog yang lama maksudnya. Tapi agaknya sayang aja ndak cukup untuk mempertahankan. Yha, tariq mang!

hC28i3cQqf.gif

Blog lama gue, nurulits.blogspot.com ialah blog yang gue buat sejak gue memasuki kelas 8 SMP karena iseng-iseng dan penasaran. Saat itu gue yang belum paham dunia perbloggeran, cuma ngisi blog itu dengan apa yang mau gue ceritain, tulis, dan posting.

Di sana cukup menjadi saksi kisah remaja gue yang alay berjaya pada masanya hahaha. Walaupun sampai sekarang ga begitu aktif dan ga serius-serius amat nekunin blog itu, cukup banyak curahan hati yang udah gue tuliskan di sana selama 8 tahunan ini.

Selain membutuhkan suasana baru, ada beberapa alasan yang gue pertimbangkan sebelum pindah ke wordpress ini. Awalnya karena beberapa blogger favorit gue melakukan hal yang sama. Konyol sih, karena mungkin jadinya gue cuma sekadar ikut-ikutan.

Tapi tentunya gue punya alasan lain juga, yaitu karena setelah gue menelusuri website demi website ternyata wordpress ini lebih banyak kebaikannya ketimbang blogspot. It is more make sense isn’t it? Alias wajar-wajar aja ketika sesuatu yang lebih baik itu dipilih bukan?

Satu nyinyiran dari dalem diri sendiri yang berkutat di pikiran sebelum bener-bener pindah blog ini adalah, “Waktu gue pake blog lama aja ga aktif ini mau sok-sok pindah blog baru segala hhh.” Iya sih, tapi daripada overthinking lagi, lagi, dan lagi, jadi nyinyiran itu harusnya bisa jadi motivasi diri ini ya khan~

Ya mau gimana lagi rencana ingin konsisten menulis, apa daya mood swing masih terus menggerayangi, sekaligus emang masih suka bingung apa yang mau ditulis (re:alibi aja, emang males anaknya).

Nah, setelah gue membaca tulisan Kak Teppy yang satu ini, gue cukup mendapat hidayah untuk tetap nulis apa yang emang kita sukai. Karena itu dia kuncinya guys.

Sip, intinya semangat ya aku! Eh, iya kamu juga.

Share to:

Leave a Reply

Your email address will not be published.