Pertama: Ruam

Perihal patah hati, semua manusia punya ceritanya sendiri. Aku tertinggal dengan ruam-ruam membekas dalam hati dan pikiran. Sedangkan, malam terlalu sunyi untuk melupakan beban. Amarah tertahan hingga tenggorokan. Tangis pecah dalam kebisuan.

Patah hati sering kali menjadi momok menakutkan, betapa diri sulit beranjak dari kenangan-kenangan yang sedikit banyak tertanam dalam ingatan.

Katanya, tidak apa-apa untuk menjadi lemah. Tidak apa-apa untuk menjadi buntu dan hilang.

Sesakku kian tersenggal, dan aku belum ingin segera cepat membaik. Sebab dengan luka setidaknya manusia dapat sadar. Berharap pada manusia lain bukan sebaik-baiknya jalan yang patut dilakukan.

Aku masih ingat kalimat demi kalimat atas yang kau ucapkan baik secara langsung pun via pesan. “Aku tidak mau meninggalkan,” katamu. Namun waktu membawanya pada sebuah kegagalan. Kegagalanmu dan aku.

Share to:

Leave a Reply

Your email address will not be published.