Menjadi Sobat Gratisan

Kalau dulu sempat enggan dan gengsi untuk mengakui, sekarang tepatnya semenjak jadi mahasiswa, gue semakin mencintai hal-hal yang berbau gratisan terutama dengan event-event seru yang diadakan berbagai pihak baik hati nan dermawan.

Misalnya di minggu ke-2 bulan Oktober ini, gue sudah 2 kali mendatangi event gratisan yang sayang untuk dilewatkan.

Yang pertama hari Selasa tanggal 8 Oktober lalu, gue datang ke acara Indosat Ooredoo Digital Camp (IDCamp) Developers Meetup-Depok. Sebuah pertemuan yang membahas mengenai program beasiswa untuk ngoding yang diadakan Indosat bersama Dicoding, salah satu situs untuk belajar dunia pemrograman.

Dalam acara tersebut sebelum dimulai, gue dan teman-teman yang hadir disediakan makan malam. Walhasil, ketika acara dimulai dan perut kenyang gue ngantuk sejadi-jadinya. Bersyukur, saat itu gue dapat 2 orang kenalan yang bisa diajak ngobrol, namanya Fidha dan Amel—kami menjadi 3 orang perempuan yang datang di antara lainnya ckck. Iya, ga di mana-mana setiap gue datang ke acara yang berbau Teknik Informatika maka salah satu risiko yang harus gue terima ialah menjadi minoritas.

Sumber fotonya : Instagram IDCamp, salam minoritas heuheu.

Di sesi pertama pematerinya adalah developer dari Indosat, Pak Firdaus menjelaskan tentang program beasiswa IDCamp yang diberikan. Kemudian di sesi kedua dengan pemateri Mas Angga dari Dicoding yang sharing penjelasan sedikit tentang pemrograman dan pengalaman yang dia punya untuk menjadi seorang software engineering.

Berikut beberapa tips yang gue catet dari power point Mas Angga kalau kita ingin terjun ke dunia programming :

  • Pair programming, alias cari temen buat ngoding.
  • Complete your project, selesain proyek yang mau dibuat jangan setengah-setengah.
  • Repeat, ulangi bisa dengan membuat proyek lain atau mengerjakan proyek yang sama.
  • Work in a team, kerja dalam sebuah tim, itu Indonesianya.

Setelah hari Selasa gue menghadiri acara IDCamp, hari Rabunya gue meluncur ke Istana Olahraga alias Istora Senayan untuk datang ke acara Pekan Kebudayaan Nasional. Kali ini gue ga sendiri, melainkan datang dengan seorang teman; Adinda.

Pekan Kebudayaan Nasional ini diadakan selama seminggu, dari tanggal 7-13 Oktober. Yang bikin gue tertarik untuk datang selain gratis adalah bintang tamu yang diundang seperti Barasuara, Maliq & D’Essentials, Kunto Aji, Danila, dan lain sebagainya. Sayangnya, mereka tampil di hari dan waktu yang berbeda.

Karena gue tau Istora bukan tempat yang cukup dekat untuk gue datangi, gue memilih untuk memesan tiket satu hari yang jatuh di hari Rabu—yang mana hari itu bintang tamunya ada Kunto Aji, favoritnya Dinda. Ehem, sebagai teman yang lucu dan baik kalo ada maunya, gue mengajak Dinda beberapa hari sebelum acara berlangsung. Sesuai prediksi, pasti mau.

Rabu, sepulang kuliah kita berangkat dengan motor kesayangan gue karena cuma satu-satunya. Melawan polusi dan macet Jakarta.

Berbekal arahan Maps yang ditransfer ke Dinda, gue yang newbie dan belum paham betul jalanan daerah pusat Jakarta mencoba sekuat tenaga ga bolot dan fokus untuk berkendara, cielah geli. Tapi serius, emang gitu.

Sesampainya di Istora, ternyata ada drama yang perlu kita lalui yakni mencari parkiran tanpa kartu e-money atau uang elektronik seperti E-money (Bank Mandiri), Tapcash (BNI), Flazz (BCA), dan Brizzi (BRI).

Kita yang bingung kemudian ketemu dengan mas-mas baik yang ngasih tau tempat parkir yang bisa pembayaran tunai. Senyum semringah terbentuk seketika, setelah bilang makasih dengan mas-mas itu kita caw menuju tempat parkir yang dimaksud dan ketemu, yeay!

Sesuai dengan rundown, 16.30—17.30 Kunto Aji mulai naik panggung dan nyanyi tentunya. Sebagai orang yang fobia ketinggian, maksudnya pendek—sama dengan acara gigs yang pernah gue datangi sebelumnya, kali ini juga gue tetep lebih lama nonton kepala orang-orang ketimbang Kuntonya. Tapi, gue tetap menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan yang mana untungnya beberapa lagu gue tau dan hapal. Sedangkan Dinda, wah jangan ditanya….(siapa juga yang mau nanya tapi ya?) intinya katanya dia seneng bisa ketemu si Mas Kun.

Jelas, bukan gue yang moto.

Selepas Maghrib, sekitar pukul 7 malam kita balik dan acara Pekan Kebudayaan itu sendiri masih berlangsung hingga pukul 10 malam. Dengan kondisi capai dan ngantuk kita menuju parkiran, setelah itu hal mengejutkan yang ga terkejut-terkejut amat terjadi. Ternyata untuk keluar dari parkiran itu kita tetap diwajibkan untuk menggunakan kartu e-money. Hadeh, padahal selagi masuk kita dapat kertas parkir juga.

Beruntung, di depan gue ada seorang bapak-bapak yang nampaknya bernasib sama. Seseorang menyarankan untuk lewat jalur samping palang tanpa tap kartu parkir yang memang ga ada. Bapak-bapak itu mengikuti saran dari orang tersebut dan gue juga ikutan pastinya, hahaha.

Kalau ada yang tau gimana cara bayar parkirnya mungkin bisa hubungi gue biar ga ada utang sama parkiran di GBK. Ngga lupa, buat bapak-bapak motor vario hitam tentu gue ucapkan terima kasih karena sudah memberi contoh yang baik supaya orang panikan semacam gue tetap chill out. Mantap jiwo pokoknya, Pak.

Nah inti dari pengalaman kali ini ialah,

Saban hari liat pelangi sembari makan ketupat dan ikan sepat,
Mari datangi acara-acara bermanfaat selagi gratis dan juga sempat.
.
.
Wadidaw.

Jangan lupa punya dan bawa kartu e-money dulu kalau bawa kendaraan pribadi dan masuk ke area GBK. Ciaaoo!

Share to:

Leave a Reply

Your email address will not be published.