Manusia-manusia Capek, Itu Kita!

Pasca kena gejala sedang Covid sekeluarga awal Juli lalu, rasanya ada sesuatu yang berubah dalam hidup. Walaupun ngga melakukan test karena orang tua yang sempat denial, kami tetap ikhtiar dengan isolasi mandiri, minum vitamin, dan berjemur upaya menjaga imun tubuh serta ga menyebarkan virus tersebut ke orang lain. Sebenarnya ketika gue yang ngalamin gejala-gejala menyebalkan itu, rasa gelisah dan panik itu terjadi sebentar ketika seharian kepala sakit ga ilang-ilang, suhu badan meningkat drastis, ditambah sekujur tubuh berasa ngilu semua. Malam itu, gue sempat berpikir, “Mati kali ini mah ya?”.

Beruntungnya gejala itu terjadi cukup muncul selama 2 hari sehingga semangat hidup dan untuk sembuh kembali muncul—inilah menurut gue bagian terpentingnya. Rasa panik berubah menjadi rasa gemas karena makan dan minum apapun rasanya hambar. Ditambah dengan aroma apapun yang sama sekali ngga tercium baunya. Setelahnya, ketika giliran kedua orang tua gue ngalamin hal serupa, setiap hari selain tetap ikhtiar yang kami lakukan untuk merawat mereka, rasa khawatir ditinggalkan itu jelas ada.

Dari moment tersebut, perasaan gue kepada manusia-manusia di sekeliling khususnya keluarga jauh berbeda dari biasanya. Sekarang bangun-bangun masih bernapas lancar, kemudian keluarga dan orang-orang tersayang lainnya masih sehat wal afiat, ada kelegaan tersendiri rasanya. Dari kejadian itu juga gue paham, mungkin salah satu penyebab Covid ini belum tuntas-tuntas adalah gak semua orang nerima kalau penyakit ini bisa masuk ke dalam tubuh siapa pun kapan aja. Gak semua orang juga bisa memahami bahwa walaupun dirinya punya imun yang kuat, belum tentu itu terjadi pada orang di sekelilingnya. Beruntungnya orang tua gue masih nurut untuk tetap isolasi mandiri, itu pun karena mereka ngalamin gejalanya. Alhamdulillah, bersyukur sekali kami masih dikasih kesempatan untuk bisa ngelewatin masa-masa tersebut.

Awal tahun 2021, mungkin hampir dari kita semua berharap bahwa 2021 akan menjadi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya namun agaknya bisa dikatakan bahwa kegundahan dan rasa capek itu lebih sering terjadi pada tahun ini.

Hampir setiap hari, entah di lingkungan sekitar ataupun di media sosial yang didengar kabar duka cita. Hal ini seolah benar-benar menjadi pelajaran bagi manusia yang masih sehat wal afiat untuk terus saling menjaga orang-orang tersayang di sekitar dan semakin mensyukuri nikmat-nikmat sederhana dalam hidup yang kalau ditelaah sebenarnya tersimpan hal yang bermakna.

Setelah tahun ini harapan dan upaya menjadi lebih baik, sepertinya bisa kita mulai tanpa menunggu tahun berganti.

Saat ini, mungkin ada waktu di mana kita merasa menjadi manusia-manusia capek karena adanya virus menyebalkan ini atau cerita lainnya. Ketika udah ngerasa capek sekali dan butuh istirahat, maka hal sederhana itulah yang bisa kita lakukan selain berdoa. Toh istirahat ngga membuat kita menjadi terlambat. Siapa tau setelahnya, energi kita akan terisi kembali atau bahkan lebih baik dari sebelumnya. Hal pentingnya, secapek-capeknya kita dengan kondisi sekarang semoga kita ngga menjadi manusia yang mudah menyerah begitu saja oleh keadaan.

Adapun yang sedang berduka atau merasa berada pada masa-masa sulit, semoga keadaan lekas membaik karena senang dan sedih di dunia, sama-sama memiliki sifat yang sementara.

Share to:

Leave a Reply

Your email address will not be published.