Akhir Juli.

Juli, dan kini lebih dari separuh jalan 2019 sudah terlewati.

Dari gue, akhir-akhir ini gue lebih banyak merasa disadarkan akan skala prioritas dan perubahannya. Entah dari kehidupan gue pribadi, pun dengan orang-orang sekitar yang sekelibat gue amati. Cie, stalker mbaknya.

Beberapa kali di bulan ini (atau tanpa sadar di bulan-bulan sebelumnya), malam-malam gue menjadi bising sekali. Ironinya, bulan Juli ialah waktu Ujian Akhir Semester (UAS) di kampus.  Tamat riwayat!

Pikiran-pikiran yang harusnya fokus pada pelajaran, malah salah jalan untuk berpikir yang bukan-bukan. Semisal, khawatir yang tidak pada tempatnya.

Q: Lantas, apa yang dikhawatirkan oleh gerangan?

A: Menyangkut seseorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang, dan tertidur.

Wait, ini orang atau domba? Huh.

Selelah-lelahnya pikiran, ada malam di mana ternyata gue masih dapat mengambil kesimpulan. Satu dari sekian hasilnya ialah, seiring tumbuh di usia awal kepala dua ini, ternyata ada banyak hal yang memang harus diterima dengan lapang dada. Tidak mesti terburu-buru, melainkan terus belajar dan nikmati prosesnya.

Entah mengikhlas sebuah kehilangan, runtutan masalah berulang, cinta bertepuk sebelah tangan, hal-hal mengkhawatirkan yang (lagi) sebenarnya cuma ada di kepala.

Dan ini ga hanya berlaku di waktu sekarang, tapi juga di waktu-waktu yang akan datang. Ga hanya ketika menghadapi sesuatu yang berat, tapi juga menyangkut hal remeh temeh lainnya. Misal, makanan favorit di kulkas tiba-tiba ngilang dan pindah ke perut Adik, ajaib.

.

.

Bersambung, namun tidak ada niat untuk melanjutkan.

Share to:

Leave a Reply

Your email address will not be published.